10 Jenis Jamur, Klasifikasinya Beserta Kandungan Gizi serta Ciri-cirinya

Tags

Jamur atau cendawan adalah tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof. Spesies jamur sangat beragam dimulai dari yang bisa dimakan hingga yang tidak bisa dimakan (beracun), tumbuhan jamur sudah sejak lama di ketahui orang di seluruh asia bahkan dunia. Misalnya di Cina Jamur Lingzhi berguna sebagai obat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Jamur Tiram juga merupakan jamur yang sangat banyak diminati oleh banyak kalangan karena kandungan zat yang sangat baik untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
Namun karena banyaknya jenis jamur kita harus dapat memilih dan memilah mana jamur yang dapat di konsumsi dan jamur yang tidak boleh dikonsumsi karena jamur juga ada yang beracun.
Berikut adalah 10 Jenis Jamur beserta beserta kandungan gizi serta ciri-cirinya.

1. Jamur Kuping
Jamur kuping (Auricularia auricula) merupakan salah satu kelompok jelly fungi yang masuk ke dalam kelas Basidiomycota dan mempunyai tekstur jelly yang unik. Fungi yang masuk ke dalam kelas ini umumnya makroskopis atau mudah dilihat dengan mata telanjang. Miseliumnya bersekat dan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: miselium primer (miselium yang sel-selnya berinti satu, umumnya berasal dari perkembangan basidiospora) dan miselium sekunder (miselium yang sel penyusunnya berinti dua, miselium ini merupakan hasil konjugasi dua miselium primer atau persatuan dua basidiospora). Auricularia auricula umumnya kita kenal sebagai jamur kuping. Jamur ini disebut jamur kuping karena bentuk tubuh buahnya melebar seperti daun telinga manusia (kuping).

2. Jamur Shiitake
Jamur Shiitake
Shiitake (椎茸?) (Lentinula edodes) atau jamur hioko dan sering ditulis sebagai jamur shitake adalah jamur pangan asal Asia Timur yang terkenal di seluruh dunia dengan nama aslinya dalam bahasa Jepang. Shiitake secara harafiah berarti jamur dari pohon shii (Castanopsis cuspidata) karena batang pohonnya yang sudah lapuk merupakan tempat tumbuh jamur shiitake.
Shiitake banyak dibudidayakan di Tiongkok, Korea dan Jepang dan bisa dijumpai di alam bebas di daerah pegunungan di Asia Tenggara.
Shiitake dalam bahasa Tionghoa disebut xiānggū (Hanzi: 香菇, "jamur harum"), sedangkan yang berkualitas tinggi dengan payung yang lebih tebal disebut dōnggū (Hanzi: 冬菇, "jamur musim dingin") atau huāgū (花菇, "jamur bunga") karena pada bagian atas permukaan payung terdapat motif retak-retak seperti seperti mekar.
Di Indonesia kadang-kadang dinamakan jamur jengkol, karena bentuk dan aromanya seperti jengkol walaupun bagi sebagian orang rasa jamur ini seperti rasa petai.

3. Jamur Merang

Jamur MerangJamur merang (Volvariella volvacea, sinonim: Volvaria volvacea, Agaricus volvaceus, Amanita virgata atau Vaginata virgata) atau kulat jumpung dalam bahasa Aceh adalah salah satu spesies jamur pangan yang banyak dibudidayakan di Asia Timur dan Asia Tenggara yang beriklim tropis atau subtropis.).
Tubuh buah yang masih muda berbentuk bulat telur, berwarna cokelat gelap hingga abu-abu dan dilindungi selubung. Pada tubuh buah jamur merang dewasa, tudung berkembang seperti cawan berwarna coklat tua keabu-abuan dengan bagian batang berwarna coklat muda. Jamur merang yang dijual untuk keperluan konsumsi adalah tubuh buah yang masih muda yang tudungnya belum berkembang.
Kandungan protein jamur cukup tinggi, dalam 100 gr jamur segar terkandung sekitar 3,2 gr protein, jumlah ini akan bertambah menjadi 16 gr jika jamur berada dalam keadaan kering. Selain itu, jamur juga memiliki kandungan kalsium dan fosfor cukup tinggi, 51 mg dan 223 mg, dan mengandung 105 kj kalori, dengan kandungan lemak rendah, 0,9 gr.

4. Jamur Supa Kelapa

Habitatnya:
Belum dibudidayakan, banyak ditemukan di lapangan terutama di bawah pohon kelapa.
Ciri-ciri:
Kalau masih muda tubuh buah berwarna putih kadang-kadang putih kekuning-kuningan.
Kalau sudah tua bagian dalamnya akan berubah menjadi serbuk yang dapat menghembus keluar kalau dipijit


5. Jamur Maitake
JamurMaitake
Beribu-ribu jenis jamur tumbuh di bumi ini. Salah satunya bernama maitake, yang dalam bahasa latin dikenal sebagai Grifola Frondosa. Jenis jamur ini mulai dikenal luas, semenjak tahun 1980, saat Prof Dr Hiroaki Nanba PhD, peneliti jamur dari Jepang mampu membuktikan manfaat jamur tersebut sebagai obat kanker.
Maitake sendiri dikenal sebagai “jamur menari”. Pasalnya sempat harga jamur inimeninggi hingga seharga perak murni, karena sulit ditemukan. Kelangkaan tersebut membuat para pemburu jamur kemudian akan menari-nari senang bila menemukannya. Oleh karena itu kemudian, jamur jenis ini dikenal dengan nama maitake, yang artinya “jamur menari”


6. Jamur Champignon
Champignon
Champignon
Jamur kancing (Agaricus bisporus), jamur kompos atau champignon adalah jamur pangan yang berbentuk hampir bulat seperti kancing dan berwarna putih bersih, krem, atau coklat muda. Jamur kancing merupakan jamur yang paling banyak dibudidayakan di dunia.
Dalam bahasa Inggris disebut sebagai table mushroom, white mushroom, common mushroom atau cultivated mushroom. Di Perancis disebut sebagai champignon de Paris, tapi penutur bahasa Inggris sering menyebutnya sebagai cham  pignon yang dalam bahasa Perancis mencakup segala jenis fungi, termasuk jamur pangan, jamur beracun, dan jamur penyebab infeksi.


7. Jamur Tiram
Tubuh buah jamur tiram memiliki tangkai yang tumbuh menyamping (bahasa Latin: pleurotus) dan bentuknya seperti tiram (ostreatus) sehingga jamur tiram mempunyai nama binomial Pleurotus ostreatus. Bagian tudung dari jamur tersebut berubah warna dari hitam, abu-abu, coklat, hingga putih, dengan permukaan yang hampir licin, diameter 5-20 cm yang bertepi tudung mulus sedikit berlekuk.
Berdasarkan penelitian Sunan Pongsamart, biochemistry, Faculty of Pharmaceutical Universitas Chulangkorn, jamur tiram mengandung protein, air, kalori, karbohidrat, dan sisanya berupa serat zat besi, kalsium, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C.
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Jamur ini memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin, fosfor, besi, kalsium, karbohidrat, dan protein. Untuk kandungan proteinnya, lumayan cukup tinggi, yaitu sekitar 10,5-30,4%.

8. Jamur Lingzhi

Menurut sejarah Cina, lingzhi ditemukan oleh seorang petani bernama Shen Nong, dan dicatat dalam bukunya, Shen Nong Herbal Classic. Ia dijuluki sebagai petani yang suci (holyfarmer). Seng Nong menyatakan, kriteria unggul nilai atau manfaat dari sebuah tanaman obat adalah bila dikonsumsi dalam jangka waktu  lama tidak menimbulkan efek samping. Pada zaman Dinasti Shu, sekitar 2400 tahun lalu, ling zhi hanya dikonsumsi untuk pengobatan para maharaja dan bangsawan di negeri Cina. Pada masa itu, ling zhi masih langka.
Sejak tahun 1971, seorang peneliti dari Universitas Kyoto, Jepang, bernama Yukio Naoi mulai membudidayakan ling zhi. Melalui eksperimen-eksperimennya, akhirnya ia berhasil menemukan cara menumbuhkan ling zhi menggunakan limbah pertanian dan kayu-kayu yang telah lapuk  


9. Jamur Matsutake
Matsutake
Matsutake
Matsutake (Tricholoma matsutake(S.Ito et Imai)Sing.) atau jamur pinus adalah nama umum untuk jamur mikoriza langka dari genus Tricholoma familia Tricholomataceae. Jamur ini belum dapat dibudidayakan, dan tumbuh liar di Cina, Jepang, Korea, Finlandia, dan tempat-tempat lain di dunia. Pada musim gugur, matsutake tumbuh di permukaan tanah hutan pinus yang ditumbuhi pinus merah jepang, Tsuga diversifolia, pohon runjung Tsuga, dan Pinus pumila. Kadang-kadang jamur ini juga bisa ditemukan di hutan yang ditumbuhi pinus hitam jepang. Di beberapa tempat, matsutake juga tumbuh semasa musim hujan Asia Timur. Pertumbuhan miselium diketahui sangat lambat. Suhu untuk pertumbuhan miselium sekitar 5-30℃, suhu ideal sekitar 22-25℃, pH tanah ideal 4,5-5,5.

10. Jamur Lendir
Jamur lendir
Jamur Lendir
Jamur Lendir atau Myxomycota adalah sekelompok protista yang berpenampilan mirip jamur namun berperilaku menyerupai amoeba. Myxomycota berasal dari kata myxo yang artinya lendir, dan mykes yang artinya cendawan.
Ciri umum myxomycota adalah memiliki fase so  ma berupa plasmodium. Plasmodium yang mengering membentuk sklerotium. Fase reproduktifnya berupa sporangium yang berisi miksospora. Dinding sel sporangium disebut peridium.
Habitat cendawan ini adalah di tempat yang lembap, kayu busuk, daun mati, dan benda organik lainnya. 


Sumber : Wikipedia Indonesia dan Blog

Artikel Menarik Lainnya :

Islam dan Persoalan Hidup dan Kerja
Contoh Expressing Possibility (Kemungkinan)
Dasar Negara Indonesia, Arab Saudi, Malaysia, Belanda, Amerika, Singapura, Inggris dan Australia
Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Pada Masa Perang Dingin dan Sejarah Asal Mula Internet
Ungkapan Congratulations (Ucapan Selamat), Expressing Surprise, Expressing Disbelief, Asking And Giving Opinion


EmoticonEmoticon