Makalah Media dan Kegiatan Belajar Mengajar



 Terima Kasih telah mengunjungi blog dodi rulianda pada postingan kali ini saya akan memberikan makalah tentang "Media dan  Kegiatan Belajar Mengajar". Makalah ini adalah salah satu tugas saya dalam Mata Kuliah Media Pembelajaran dengan Prodi PGSD, ini bisa juga memudahkan sebagai contoh pembuatan Makalah.


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pengertian media menurut Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4) yaitu : “media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”.
Seandainya guru tidak menggunakan media dalam proses belajar mengajar (PBM) kemungkinan akan banyak menguras tenaga, waktu dan hasilnya pun belum tentu memuaskan karna siswa-siswanya memiliki Hambatan yang berbeda misal hambatan psikologis, seperti minat, sikap, pendapat, kepercayaan, inteligensi, pengetahuan dan hambatan fisik seperti kelelahan, sakit, keterbatasan daya indra dan cacat tubuh.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana hubungan guru dengan media pembelajaran?
2.      Kenapa penggunaan media sangat penting dalam pembelajaran?
3.      Apa saja prinsip pemanfatan media?
4.      Bagaimana mempertimbangkan pemilihan media?

C.    Tujuan Penulisan Makalah

1.      Mengetahui hubungan guru dengan media pembelajaran.
2.      Mengetahui alasan penggunaan media sangat penting dalam pembelajaran.
3.      Mengetahui prinsip pemanfatan media
4.      Mengetahui cara mempertimbangkan pemilihan media.


BAB II
PEMBAHASAN

1.      Guru dan Media Pembelajaran
Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/ media tertentu ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan adalah komponen-komponen proses komunikasi. Pesan yang dikomunikasikan adalah isi ajaran atau didikan dalam kurikulum. Sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain atau penulis buku dan produser media. Salurannya adalah media pendidikan dan penerima pesannya adalah siswa atau juga guru.
Pesan berupa isi ajaran dan didikan yang ada di kurikulum dituangkan oleh guru atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi baik simbol verbal (kata-kata lisan ataupun tertulis) maupun simbol-simbol non verbal atau visual. Proses penuangan pesan kedalam simbol-simbol komunikasi itu disebut Encoding. Selanjutnya penerima pesan (bisa siswa, peserta latihan ataupun guru dan pelatihnya sendiri) menafsirkan simbol-simbol komunikasi tersebut sehingga diperoleh pesan. Proses penafsiran simbol-simbol komunikasi yang mengandung pesan-pesan tersebut disebut Decoding.
Adakalanya penafsiran tersebut berhasil, adakalanya tidak. Penafsiran yang gagal atau kurang berhasil  berarti kegagalan atau kekurangberhasilan dalam memahami apa-apa yang didengar, dibaca, atau dilihat dan dipahaminya.
Misalnya, guru A jengkel sekali karena tenaga hampir habis terkuras, waktu banyak digunakan dan suarapun hampir habis hilang dari tenggorokan tetapi siswa-siswanya tak juga mengerti apa-apa yang diterangkannya. Lalu ia pun bertanya siapa sebenarnya yang bodoh. Dia ataukah siswa-siswanya. Waktu ditanyakan satu pertanyaan sederhana dari 40 siswanya orang siswanya hanya dua yang benar, separuhnya kurang tepat menjawab, sedang sisanya salah sama sekali. Mereka menjawab yang bukan-bukan. Jika guru hanya mempertanyakan siapa yang bodoh masih lebih baik dari pada telah memutuskan bahwa siswa-siswanya sebagai anak-anak yang bodoh.
Siswa-siswanya tidak atau kurang berhasil mengencode pesan-pesan yang disampaikan olehnya. Misalnya, Guru menyampaikan pesan A, dari kelima siswa 1 siswa yang tepat dalam menafsirkannya, tiga diantaranya kurang tepat sedang satu lainnya salah sama sekali.
Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat atau penghalang proses komunikasi. Penghambat tersebut biasa dikenal dengan istilah barriers, atau noises. Kita kenal adanya hambatan psikologis, seperti minat, sikap, pendapat, kepercayaan, inteligensi, pengetahuan dan hambatan fisik seperti kelelahan, sakit, keterbatasan daya indra dan cacat tubuh. Siswa yang senang terhadap mata pelajaran topik serta gurunya tentu lain hasil belajarnya dibandingkan dengan yang benci atau tak menyukai semua itu.
Guru jangan terlalu berharap terhadap siswa yang lagi sakit karna pesan-pesan yang guru sampaikan padanya akan terhambat karenanya. Juga jangan berharap pada siswa yang sehat sekali pun untuk mengamati kehidupan binatang satu sel dengan mata telanjang.
Dua jenis hambatan yang lain adalah hambatan kultural seperti perbedaan adat istiadat, norma-norma sosia, kepercayaan dan nilai-nilai panutan dan hambatan lingkungan yaitu hambatan yang ditimbulkan situasi dan kondisi keadaan sekitar. Proses belajar mengajar ditempat yang tenang, sejuk dan nyaman tentu akan berbeda dengan proses yang dilakukan di kelaa yang bising, panas dan berjubel. Perbedaan adat istiadat, norma sosial dan kepercayaan kadang-kadang bisa menjadi sumber salah paham. Karena adanya berbagai jenis hambatan tersebut baik dalam diri guru maupun siswa, baik sewaktu mengencode pesan maupun mengdecodenya, proses komunikasi belajar mengajar sering kali berlangsung secara tidak efektif dan efisien.
Media Pendidikan sebagai salah satu sumber belajar yang dapat menyalurkan pesan sehingga membantu mengatasi hal tersebut. Perbedaan gaya belajar, minat, inteligensi, keterbatasan daya indera, cacat tubuh atau hambatan jarak geografis, jarak waktu dan lain-lain dapat dibantu dengan pemanfaatan media pendidikan.
Proses komunikasi yang berhasil berkat ikut sertanya media dengan proses belajar mengajar. Sumber pesan bisa penulis buku, pelukis, fotographer, produsen dan guru sendiri. Medianya bisa berupa buku, poster, foto, program kaset audio, film, kaset video. Pesan A yang disampaikan oleh guru maupun media dan sumber pesan ditafsirkan sebagai A pula oleh para siswanya. Guru dan media bekerja sama, bahu-membahu dalam menyajikan pesan.
Mungkin saja guru tidak banyak berperan karna proses belajar-mengajar terjadi dalam jarak jauh. Pada situasi seperti ini penulis buku, modul atau produsen program-program audio, video maupun film merupakan seumber pesan. Siswa berinteraksi dengannya secara tak langsung lewat media-media yang mereka buat.
Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Menurut Edgar Dale, dalam dunia pendidikan, penggunaan media pembelajaran seringkali menggunakan prinsip Kerucut Pengalaman, yang membutuhkan media seperti buku teks, bahan belajar yang dibuat oleh guru dan “audio-visual”.
 
Ada beberapa jenis media pembelajaran, diantaranya :
  1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
  2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
  3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
  4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.

2.      Pentingnya Penggunaan Media
Secara umum media mempunyai kegunaan:
1.      Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra. Seperti misalnya,
a.       Objek yang terlalu besar-bisa digantikan dengan realita, gambar, film bingkai, atau model.
b.      Objek yang kecil-dibantu dengan proyektor mikro, film, bingkai atau gambar.
c.       Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan timelapse atau high-speed photography.
d.      Kejadian atau peristiwa yang terjadi dimasa lalu bisa di tampilkan lagi lewat rekaman film, video, film, bingkai, foto maupun verbal.
e.       Objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin-mesin) dapat disajikan dengan model, diagram dan lain-lain.
f.       Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, film bingkai, gambar, dan lain-lain.
3.      Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pendidikan berguna untuk :
a.       Menimbulkan kegairahan belajar
b.      Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan.
c.       Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan.
4.      Dengan sifat yang unik pada tiap siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Hal ini akan lebih sulit bila latar belakangnya lingkungan guru dengan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu dengan kemampuannya dalam :
a.       Memberikan perangsang yang sama.
b.      Mempersamakan pengalaman.
c.       Menimbulkan persepsi yang sama.
Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut kemp and dayton, 1985:
  1. Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
  2. Pembelajaran dapat lebih menarik
  3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
  4. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
  5. Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
  6. Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
  7. Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan
  8. Peran guru berubahan kearah yang positif
3.  Prinsip Pemanfaatan Media

Prinsip Pemanfaatan Media Pembelajaran

1.         Tidak ada suatu media yang terbaik untuk mencapai semua tujuan pembelajaran.
2.         Penggunaan media harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Dengan demikian pemanfaatan media harus menjadi bagian integral dari penyajian pelajaran.
3.         Penggunaan media harus mempertimbangkan kecocokan ciri media dengan karakteristik materi pelajaran yang disajikan.
4.         Penggunaan media harus disesuaikan dengan bentuk kegiatan belajar yang akan dilaksanakan seperti belajar klasikal, kelompok kecil, belajar secara individual dan belajar mandiri.
5.         Guru hendaknya kenal betul dengan alat yang akan digunakan. Penggunaan media harus disertai persiapan yang cukup seperti mempreview  media yang akan dipakai, mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan.
6.         Penggunaan media harus diusahakan agar senantiasa melibatkan partisipasi aktif peserta.
7.         Media yang digunakan hendaknya dipilih secara objektif, tidak didasarkan atas kesenangan pribadi.
8.         Aneka ragam media
9.         Kepraktisan dan ketersediaan media.
4. Pertimbangan Pemilihan Media
Prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran merujuk pada pertimbangan seorang guru dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran untuk digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini disebabkan adanya beraneka ragam media yang dapat digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Menurut Rumampuk (1988:19) bahwa prinsip-prinsip pemilihan media adalah :
(1)   Harus diketahui dengan jelas media itu dipilih untuk tujuan apa,
(2)   Pemilihan media harus secara objektif, bukan semata-mata didasarkan atas kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan atau hiburan. Pemilihan media itu benar-benar didasarkan atas pertimbangan untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa,
(3)   Tidak ada satu pun media dipakai untuk mencapai semua tujuan. Setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan. Untuk menggunakan media dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya dipilih secara tepat dengan melihat kelebihan media untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu,
(4)   Pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan metode mengajar dan materi pengajaran, mengingat media merupakan bagian yang integral dalam proses belajar mengajar,
(5)   Untuk dapat memilih media dengan tepat, guru hendaknya mengenal ciri-ciri dan masing-masing media, dan
(6)   Pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan.
Sedangkan ibrahim (1991:24) menyatakan beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk memilih media pembelajaran, antara lain :
(1)     Sebelum memilih media pembelajaran, guru harus menyadari bahwa tidak ada satupun media yang paling baik untuk mencapai semua tujuan. Masing-masing media mempunyai kelebihan dan kelemahan. Penggunaan berbagai macam media pembelaiaran yang disusun secara serasi dalam proses belajar mengajar akan mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran,
(2)     Pemilihan media hendaknya dilakukan secara objektif, artinya benar-benar digunakan dengan dasar pertimbangan efektivitas belajar siswa, bukan karena kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan,
(3)     Pernilihan media hendaknya memperhatikan syarat-syarat;
(a) Sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
(b) Ketersediaan bahan media,
(c) Biaya pengadaan, dan
(d) Kualitas atau mutu teknik.
Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran adalah
(1)     Media yang dipilih harus sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran, metode mengajar yang digunakan serta karakteristik siswa yang belajar (tingkat pengetahuan siswa, bahasa siswa, dan jumlah siswa yang belajar),
(2)     Untuk dapat memilih media dengan tepat, guru harus mengenal ciri-ciri dan tiap tiap media pembelajaran,
(3)     Pemilihan media pembelajaran harus berorientasi pada siswa yang belajar, artinya pemilihan media untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa,
(4)     Pemilihan media harus mempertimbangkan biaya pengadaan, ketersediaan bahan media, mutu media, dan lingkungan fisik tempat siswa belajar.
Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat diturunkan sejumlah faktor yang mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran yang dapat dipakai sebagai dasar dalam kegiatan pemilihan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah;
(1)   Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai,
(2)   Karakteristik siswa atau sasaran,
(3)   Jenis rangsangan belajar yang diinginkan,
(4)   Keadaan latar atau lingkungan,
(5)   Kondisi setempat, dan
(6)   Luasnya jangkauan yang ingin dilayani (Sadiman 2002:82).
Pemilihan media pembelajaran oleh guru dalam pembelajaran berbasis kompetensi membaca puisi juga harus berpedornan pada prinsip-prinsip pemilihan media yang dilatari oleh sejumlah faktor di atas. Pemilihan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar harus disesuaikan dengan tujuan instruksional membaca puisi yang akan dicapai, isi materi pelajaran pembelajaran membaca puisi, metode mengajar yang akan digunakan, dan karakteristik siswa. Sehubungan dengan karakteristik siswa, guru harus memiliki pengetahuan tentang kemampuan intelektual siswa usia SMA, agar guru dapat memilih media yang benar-benar sesuai dengan siswa yang belajar. Ketepatan dalam pemilihan media akan dapat meningkatkan mutu proses belajar mengajar membaca puisi sehingga guru dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ada beberapa faktor yang menjadi penghambat atau penghalang proses komunikasi. Penghambat tersebut biasa dikenal dengan istilah barriers, atau noises. Kita kenal adanya hambatan psikologis, seperti minat, sikap, pendapat, kepercayaan, inteligensi, pengetahuan dan hambatan fisik seperti kelelahan, sakit, keterbatasan daya indra dan cacat tubuh. Siswa yang senang terhadap mata pelajaran topik serta gurunya tentu lain hasil belajarnya dibandingkan dengan yang benci atau tak menyukai semua itu.
Namun dengan menggunakan Media Pendidikan sebagai salah satu sumber belajar dapat menyalurkan pesan sehingga membantu mengatasi hal tersebut. Perbedaan gaya belajar, minat, inteligensi, keterbatasan daya indera, cacat tubuh atau hambatan jarak geografis, jarak waktu dan lain-lain dapat dibantu dengan pemanfaatan media pendidikan.
Menurut Rumampuk (1988:19) bahwa prinsip-prinsip pemilihan media adalah :
1)      Harus diketahui dengan jelas media itu dipilih untuk tujuan apa.
2)      Pemilihan media harus secara objektif, bukan semata-mata didasarkan atas kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan atau hiburan. Pemilihan media itu benar-benar didasarkan atas pertimbangan untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa.
3)      Tidak ada satu pun media dipakai untuk mencapai semua tujuan. Setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan. Untuk menggunakan media dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya dipilih secara tepat dengan melihat kelebihan media untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.
4)      Pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan metode mengajar dan materi pengajaran, mengingat media merupakan bagian yang integral dalam proses belajar mengajar.
5)        Untuk dapat memilih media dengan tepat, guru hendaknya mengenal ciri-ciri dan masing-masing media, dan Pemilihan media hendaknya.

0 Response to "Makalah Media dan Kegiatan Belajar Mengajar"

Posting Komentar